Wednesday, June 10th, 2009 | Author: yankolin

KENDATI penggiat seni lukis tradisional wayang Kamasan tetap kukuh dengan pakem-pakem yang digariskan leluhurnya, bukan berarti perkembangan seni tradisi ini jadi stagnan atau jalan di tempat. Generasi penerusnya tetap punya ruang gerak yang lapang untuk berkreasi dan menciptakan inovasi-inovasi. Jika pada awal perkembangannya lukisan wayang itu hanya ditampilkan pada bentangan kayu, lalu “menyeberang” ke kain (kanvas), kali ini figur-figur wayang itu bahkan makin ”liar” ditampilkan di atas bentangan kulit binatang, kulit telur, batok kelapa, bambu, bahkan helm.

Produk seni fungsi yang dihasilkannya juga beragam, mulai dari dompet, kipas, topi petani, asbak, pot bunga, keroncongan sapi serta deretan barang-barang kerajinan lainnya. Bagi krama Desa Kamasan, penuangan ide-ide di luar media kayu dan kain itu bukanlah bentuk “pengkhianatan” terhadap tradisi leluhur mereka. Media tempat berekspresi boleh beragam, namun karakter, corak, warna dan detail wayang yang ditampilkan tetap tunduk kepada pakem-pakem yang ada. “Pada awalnya, kreasi itu bersifat coba-coba. Namun dalam perkembangannya, jenis kerajinan itu justru sangat diminati wisatawan terutama wisatawan mancanegara,” kata I Ketut Widastra (53), putra bungsu I Ketut Rabeg, seorang ‘’suhu” pelukis wayang Kamasan.

Menurut Kepala SDN 1 Semarapura Klod Kangin ini, “penyeberangan” media ekspresi dari kayu dan kain ke media lainnya sudah berkembang pascakunjungan Walter Spies dan R. Bonnet ke Desa Kamasan. Menurut mereka, agar produksi masyarakat bisa bersaing di tingkat global harus mampu mengikuti trend yang sedang berkembang. “Masyarakat lantas mencoba melukis wayang stil Kamasan di atas kipas, topi bambu, dompet dan benda-benda lainnya. Saat ini, helm pun juga mulai jadi sasaran,” ujarnya.

Widastra menambahkan, produk-produk itu biasanya dimanfaatkan sebagai suvenir oleh wisatawan. Karena itu, bentuk dan ukurannya juga dibuat mini sehingga praktis untuk dibawa. Khusus untuk benda-benda suvenir ini, harganya jauh lebih murah jika dibandingkan dengan lukisan yang dibuat di atas bentang kayu dan kain. “Saat teknologi pengolahan kayu makin maju, kami juga membuat telur-teluran dari kayu. Di atasnya lantas dihiasi lukisan wayang stil Kamasan. Mengingat ruangnya yang terbatas, jelas kami tidak bisa menampilkan cerita epos Mahabharata dan Ramayana secara utuh,” katanya lagi.

Lebih lanjut Widastra mengatakan, pewarna yang dipakai juga mengalami perubahan seiring perkembangan zaman. Lukisan Kamasan tempo dulu, kata dia, murni memanfaatkan pewarna-pewarna alami yang dihasilkan dari tulang ikan, batu-batuan, tumbuh-tumbuhan dan mangsi yang dilarutkan dengan air (hasil pembakaran arang-red). Sebagian besar dari pewarna alami itu didapatkan dari Nusa Penida, bahkan ada yang didatangkan khusus dari Cina. Misalnya kencu untuk menghasilkan warna merah pekat.

Proses pembuatan warna itu juga perlu waktu relatif lama sehingga dinilai kurang praktis dan efisien. Apabila ada orderan dalam skala besar, jelas seniman Kamasan tidak bisa memenuhinya. Karena itu, mereka terpaksa berpaling kepada warna-warna pabrikan (warna kimia) yang gampang didapat. Hanya, dalam proses pewarnaan itu sebagian besar seniman masih menyertakan warna-warna alami untuk mempertahankan kesan natural. “Saat ini, warna-warna alami itu makin sulit didapat. Namun untuk pesanan-pesanan tertentu, kami masih memakainya. Tentu saja, harganya jadi lebih tinggi,” kata Widastra yang tetap menyempatkan diri melukis wayang Kamasan di sela-sela kesibukannya mengajar.

Pria yang punya show room untuk memajang karya-karya seni yang dihasilkan keluarganya ini menegaskan, sebagian besar krama Banjar Sangging Desa Kamasan memang menggantungkan hidupnya dari seni lukis wayang. Dengan kata lain, seni warisan leluhur ini sudah berkembang menjadi home industry. Sementara akses pemasaran, masih mengandalkan kunjungan dari wisatawan yang datang ke Desa Kamasan. Sangat jarang yang secara khusus menjajakkan produknya ke luar Kamasan. Sistem penjualan konvensional seperti ini juga mengharuskan mereka bersaing sesama teman. “Penghasilan kami memang tergantung dari kunjungan wisatawan. Di saat-saat paceklik tamu seperti saat ini, bisa jadi seminggu penuh kami tidak dapat jualan,” katanya lagi.

Lantas, produk apa yang paling diminati oleh wisatawan? Menurut Widastra, wisatawan yang datang bisa diklasifikasikan ke dalam dua kelompok yakni pencinta seni sejati dan wisatawan biasa. Pencinta seni sejati biasanya memburu lukisan-lukisan bermutu buah karya seniman-seniman ternama. Sementara wisatawan biasa cenderung membeli suvenir-suvenir yang berharga “miring” seperti dompet, telur-teluran, kipas serta produk-produk lainnya. “Tidak semua wisatawan yang datang punya apresiasi seni tinggi. Mereka umumnya sekadar membeli tanpa peduli siapa pelukisnya. Toh, tujuannya hanya untuk oleh-oleh dan diberikan kepada sanak kerabat di negara asalnya,” ujarnya.

Dia menambahkan, lukisan Kamasan yang dibuat pelukis ternama seperti Rabeg dan Mangku Mura — dua empu pelukis wayang Kamasan — dan memakai pewarna alami serta dilukis di atas kain Bali bisa menembus harga puluhan juta rupiah.

Sumber gambar: butablog
Sumber berita: balipost

Wednesday, February 11th, 2009 | Author: yankolin

Cicit kelelawar bagai tak henti-hentinya di Pura Goa Lawah ini sepanjang hari-sepanjang malam .Pura Goa Lawah berlokasi di Kecamatan Dawan, Klungkung dan berada dipinggir utara jalan arteri antara kota Semarapuira- ibukota Kab.Klungkung, kearah timur menuju kota Amlapura- ibukota Kab.Karangasem.Jarak Pura Goa Lawah dari Denpasar- ibukota Propinsi Bali sekitar 40 km, atau 10 km sebelah timur kota Semarapura.

Posisi Goa Lawah terletak pada koordinat 8 derajat, 31 menit Lintang Selatan dan 115 derajat, 30 menit Bujur Timur pada ketinggian sekitar 5 meter dari muka air laut pasang tertinggi.Pura yang dihuni ribuan kelelawar ini memiliki status sebagai KahyanganJjagat, dalam hal ini Sad Kahyangan tempat sthana Ida Sang Hyang Basukih dan menurut Padma Bhuwana, pura ini berada diarah tenggara sebagai kedudukan Dewa Maheswara.Sebagaimana pura-pura besar Kahyangan lainnya, maka terasa sulit mengetahui dengan sebenarnya siapa pendiri dan kapan didirikannya Pura Goa Lawah ini. Diperkirakan Maha Pandita Mpu Kuturan memiliki hubungan kesejarahan dengan pendirian dan keberadaan Pura Goa Lawah ini.

Dang Hyang Nirartha dijaman pemerintahan Dalem Waturenggong merupakan Maha Pandita lain yang pernah datang ketempat ini. Pengemong Pura Goa Lawah adalah kramadesa adat Pesinggahan. Pada bulan-bulan baik- sasih ayu dan hari-hari baik-rahina subhadiwasa, umat Hindu banyak berdatangan ketempat ini. Di Pura ini umat Hindu melakukan upacara Nyegara Gunung, karena lokasinya berada ditepi laut dan diperbukitan atau gunung. Hanya beberapa meter disebelah selatan pura terdapat pantai sedangkan gunung itu sendiri diwakili oleh perbukitan dimana pura dan goa ini berlokasi. Konon Goa ini tembus ke Gunung Agung dan diperkirakan merupakan bekas aliran sungai bawah tanah.

Upacara Nyegara Gunung atau Upacara Ngajar-ajar/Majar-ajar sendiri merupakan suatu upacara kelanjutan dari upacara Pitra Yadnya dalam hal ini dari tingkatan Nyeka, Mamukur sampai Maligia Punggel dalam kaitan dengan upacara Ngalinggihan Dewa Pitara di Sanggah Pamerajan. Disamping itu Upacara Nyegara Gunung diselenggarakan pula dalam kaitan dengan selesainya suatu upacara Dewa Yadnya.

Dalam kaitan dengan penyelenggaraan pemeliharaan pura secara niskala atau rohaniah di pura ini diselenggarakan upacara Piodalan atau Pujawali setiap 210 hari sekali bertepatan dengan hari Anggara Kasih atau Selasa Keliwon wuku Medangsia dengan tingkatan upacara : Padudusan Alit dan Padudusan Agung yang diselenggarakan bergantian.

Sementara dalam pemeliharaan fisik serta pengembangannya, Pura Goa Lawah yang diemong oleh kramadesa Pasinggahan, hendaknya dapat mengikuti tata pemeliharaan dan pengembangan sebuah pura Kahyangan Jagat khususnya Sad Kahyangan. Penyelenggaraan pemeliharaan baik dalam bentuk upacara maupun pemeliharaan fisik hendaknya juga menjadi perhatian seluruh umat Hindu. Perhatian khusus, hendaknya diusahakan penanaman buah-buahan untuk keperluian makanan kelelawar sehingga kehidupannya terjamin dari masa- kemasa, disamping kebutuhan penanaman bunga-bungaan dan pepohonan yang selaras dengan konsep penataan sebuah pura.

Orientasi persembahyangan di pantai mengarah ke selatan atau ke laut. Sedangkan orientasi persembahyangan di Pura Goa Lawah ke arah Goa atau kearah utara. Diatas bukit terdapat juga sebuah Pura Yakni : Pura Pucak Sari.
Palebahan atau areal pura dibagi atas Tri Mandala : Jeroan, sebagai utama mandala dimana Goa ini berada dengan beberapa Pelinggih utama; Jaba Tengah, sebagai madya mandala diisi dengan beberapa pelinggih dan Jaba Sisi adalah pantai atau segara Goa Lawah yang dipisahkan dengan jalan Semarapura- Amlapura
dengan kawasan jaba tengah dan jeroan.

Pura ini memiliki daya tarik tersendiri bagi wisatawan karena keberadaan goa kelelawarnya sendiri serta bangunan pura dan kegiatan umat bersembahyang. Pura ini memiliki fasilitas yang cukup memadai, seperti Parkir, Wantilan,Urinoir / jamban serta beberapa tempat berteduh baik bagi pemedek ataupun wisatawan nusantara maupun mancanegara. Semua fasilitas ini seyogyanya ditata kembali sehingga tepat fungsi dan selalu berada dalam keadaan bersih dan rapi.

Sumber teks: www.klungkungkab.go.id

Sumber Foto: www.panoramio.com

Tuesday, February 10th, 2009 | Author: yankolin

Obyek wisata Kertha Gosa terletak di Kota Semarapura, Kabupaten Klungkung, Bali. Kawasan ini telah menjadi obyek wisata menarik di kawasan Bali Timur dimana menjadi bukti sejarah dari kebesaran Kerajaan Klungkung di masa lalu. Obyek wisata yang terletak tepat di jantung Kota Semarapura ini dapat dijangkau dengan mudah menggunakan kendaraan bermotor, dengan waktu tempuh kurang dari satu jam dari kota Denpasar.

Dalam kawasan itu terdapat pula Museum Semarajaya. Bangunan dari museum ini mempunyai ciri yang begitu khas, hasil perpaduan dari arsitektur Belanda dan arsitektur tradisional Bali yang cukup mempesona. Gedung itu dibangun pada jaman pemerintahan Hindia Belanda di Indonesia atau sekitar tahun 1942 dan hingga sekarang keasliannya tetap dipertahankan, meskipun pernah dilakukan renovasi pada tahun 1992.

Pada museum tersebut terdapat koleksi sejumlah lukisan dan peninggalan benda-benda prasejarah yang bernilai estetika tinggi dan telah berumur hingga ribuan tahun. Hal itu menjadi daya tarik tersendiri bagi para pelancong yang melihatnya.

Di komplek obyek wisata tersebut selain Museum Semarajaya terdapat pula objek wisata lain seperti Taman Gili dan sejumlah bangunan Kertha Gosa. Dimana pada bangunannya, bagian langit-langitnya dihiasi dengan lukisan klasik gaya Kamasan.

Keindahan juga nampak pada Taman Gili. Sebuah kolam yang tertata apik dengan ratusan jenis ikan hias berwarna-warni tampak mengelilingi taman itu sehingga mampu memberikan ketenangan dan kenyamanan bagi setiap pengunjung. Bangunan Taman Gili merupakan bagian dari satu kesatuan yang tak terpisahkan dengan Puri Semarapura Klungkung, yang sampai sekarang tetap dirawat dengan baik oleh Pemerintah Kabupaten Klungkung.

Gedung Kertha Gosa yang arsitekturnya tetap terpelihara hingga sekarang, konon pada zaman kerajaan berfungsi sebagai balai pengadilan adat. Setiap warga yang bermasalah, baik yang melanggar ketentuan adat, norma agama dan terlibat pertikaian, penyelesaiannya dilakukan di tempat tersebut.

Bangunan tersebut terdiri beberapa ruangan, salah satu ruangan yang berukuran cukup luas itu dilengkapi enam buah kursi dan sebuah meja ukuran persegi empat yang berhiaskan ukiran prada.

Masing-masing kursi yang utuh hingga sekarang itu dihiasi dengan seni pahat yang berbeda-beda. Dua kursi dilengkapi dengan pahatan naga, masing-masing untuk tempat duduk pendeta Brahmana dan tempat duduk sang raja.

Dua kursi lainnya dihiasi pahatan lembu untuk juru tulis dan yang memanggil pesakitan (terdakwa). Sebuah kursi yang berpahat Singa dipakai untuk tempat duduk seorang petinggi Belanda, dan satu kursi lagi berisi hiasan kerbau untuk tempat hakim yang memutus perkara tersebut.

Sedangkan masyarakat yang diadili karena melakukan pelanggaran duduk bersila di lantai. Semua bagian itulah yang terdapat di gedung Kertha Gosa yang dikenal sebagai tempat untuk menghukum seseorang akibat pelanggaran yang dilakukan.

Menurut Candra Sengkala yang terpahat di Pemedalan Agung (pintu utama) Puri Kertha Gosa, obyek wisata tersebut dibuat tahun 1622 atau tahun 1700 Masehi, saat pemerintahan Klungkung dikendalikan oleh Raja I Dewa Agung Jambe.

Gedung Kertha Gosa itu juga sekaligus berfungsi sebagai tempat penerimaan tamu-tamu penting kerajaan, seperti yang datang dari Belanda, Inggris, Portugal, dan China. Kini Kertha Gosa merupakan salah satu obyek wisata andalan Kabupaten Klungkung, yang berada di tepat di tepi jalur jalan raya Denpasar-Karangasem.

Sumber: www.kapanlagi.com

Wednesday, October 08th, 2008 | Author: yankolin

Seni lukis wayang kamasan adalah salah satu bentuk karya seni klasik yang dapat dianggap induk seni lukis dalam kebudayaan Bali. Karya seni ini tidak dapat dipisahkan dari nilai keagamaan, terutama nilai ritual. Selain untuk kepentingan ritual keagamaan, seperti untuk ider-ider (kain hiasan), kober (bendera), dan lelontekan (panji), lukisan wayang juga digunakan sebagai dekorasi, seperti penghias dinding ruangan. Kegunaan ini justru semakin melestarikan seni lukis wayang klasik Kamasan hingga kini. Salah satu bukti yang menunjukkan betapa populernya lukisan wayang Kamasan adalah hiasan langit-langit Taman Gili dan Kertha Gosa, dua bangunan dari zaman Kerajaan Semarapura. Kedua bangunan kuno itu kini menjadi salah satu obyek wisata andalan Klungkung.

Tema lukisan Wayan Klasik Kamasan memang sangat khas, yaitu seputar kisah Mahabharata atau Ramayana. Seringkali dalam satu lukisan terdapat beberapa fragmen yang membentuk alur cerita. Gaya lukisan seperti ini mengingatkan kita akan komik-komik jaman sekarang. Bedanya, lukisan Wayang Kamasan tidak memuat teks dialog seperti dalam komik.

KAMASAN sebagai tempat berkembangnya seni lukis wayang klasik dan seni ukiran perak dan kuningan hanyalah sebuah desa kecil di Kabupaten Klungkung, Bali. Desa ini terletak sekitar 2 km di sebelah selatan kota Semarapura yang menjadi ibukota kabuten Klungkung. Jarak dari Denpasar ke desa ini ialah 30 km. Melalui jalan by pass Ida Bagus Mantra desa ini dapat dicapai dengan kendaraan bermotor dalam waktu 45 menit.

Menurut catatan sejarah, seni lukis wayang klasik ini berkembang di Kamasan sejak zaman Kerajaan Majapahit. Antara abad ke-14 hingga abad ke-18, Pulau Bali dikuasai para Dalem, raja-raja keturunan Sri Kresna Kepakisan dari Kerajaan Majapahit.

Salah satu Dalem yang paling dikenal adalah Sri Waturenggong yang merupakan cucu Sri Kresna Kepakisan. Pada masa pemerintahan Dalem Waturenggong ini, seni budaya di Bali mengalami masa pencerahan karena sang raja juga penggemar seni budaya. Dalem Waturenggong membangun istananya di Desa Gelgel. Istana ini dikenal sebagai Puri Suwecapura atau Istana Karunia. Dari tempat ini, Dalem Waturenggong menata urusan pemerintahan dan keamanan negara. Sementara pada saat yang sama, Kamasan – terletak di sebelah utara Gelgel – ditatanya sebagai salah satu pusat kerajaan yang khusus mengurus seni budaya, pendidikan, dan keagamaan. Nama Kamasan dalam prasasti Anak Wungsu yang bertahun Saka 994 (1072 M) berarti benih yang bagus.

Posisi Kamasan dengan peran khusus di waktu silam itu ternyata menjadi benih subur tumbuhnya potensi kesenian terutama seni lukis wayang. Warga sekitarnya seakan terbius untuk mengembangkan bakat seni yang mereka miliki. Selanjutnya “kandungan” Kamasan terus melahirkan seniman. Sebut saja salah satunya kini adalah I Nyoman Mandra yang hasil karyanya pernah dipamerkan sampai ke Bentara Budaya, Jakarta.

Gaya lukisan wayang Kamasan memang unik hingga mampu menarik minat turis berkunjung ke desa tersebut. Spies dan Bonnet, dua maestro seni lukis yang sangat berpengaruh dalam perjalanan seni lukis di Bali, pernah mondok di Kamasan. Bahkan, Spies meninggalkan seperangkat gamelan selendro untuk masyarakat Kamasan.

==dari berbagai sumber==